Fabel ; "PIKO INGIN SEKOLAH"
Di
sebuah hutan Kalimantan, tinggallah seekor burung enggang kecil bernama Piko.
Paruhnya pendek, bulunya lembut, dan matanya selalu berbinar penuh rasa ingin
tahu. Piko tinggal di rumah pohon.
Setiap
pagi Piko bertengger di jendela rumahnya, melihat anak-anak hewan berjalan
menuju sekolah. Tupi si tupai membawa tas kecil, Lala si rusa membawa buku
gambar, Bubu si beruang membawa kotak bekal dan Cici si kelinci membawa sekotak
krayon. Mereka berangkat ke sekolah dengan riang gembira.
Sekolah
hewan berada di tepi sungai. Ada taman bunga mini di sana. Anak-anak hewan
bermain dan belajar bersama Bu Guru Kura-kura.
“Bu,
kapan aku sekolah?” tanya Piko untuk kesekian kalinya.
Ibunya
tersenyum sambil merapikan bulu kepala Piko. “Piko masih terlalu kecil. Umurmu
belum cukup untuk masuk sekolah,” kata Ibu.
Piko
mengembungkan pipinya. “Tapi Piko sudah bisa berhitung sampai dua puluh! Dan
sudah hafal huruf A sampai… hmm… kadang sampai Z.”
Ibu
tertawa kecil. Karena tahu Piko sangat ingin belajar, sore itu Ibu pergi ke
pasar hutan. Ketika pulang, Ibu membawa sebuah paket.
“Untuk
Piko,” kata Ibu.
Piko
membuka paket dengan semangat. Di dalamnya ada buku gambar, krayon warna-warni,
dan papan tulis kecil. Mata Piko berbinar.
“Waaah!
Aku punya alat sekolah!” seru Piko.
Sejak
hari itu Piko belajar di rumah. Ia menggambar, menulis huruf, dan bermain peran
menjadi guru. Kadang ia berdiri di depan cermin dan bicara sendirian.
“Halo
murid-murid! Hari ini kita belajar tentang… kenapa pisang tidak tumbuh di
langit?” Lalu ia sendiri yang menjawab. “Karena nanti monyet naik pesawat!” Piko
tertawa sendiri.
Meskipun
senang belajar di rumah, hatinya masih ingin pergi ke sekolah sungguhan. Suatu
pagi, saat Ibu sedang pergi, Piko punya ide. Ia memakai tas kecil, memasukkan
buku, pensil, dan papan tulis.
“Aku
akan sekolah diam-diam,” kata Piko.
Piko
terbang pelan mengikuti anak-anak hewan. Sesampainya di sekolah, ia bersembunyi
di balik semak. Dari jendela ia melihat Bu Guru Kura-kura sedang mengajar. Piko
tidak tahan. Ia masuk diam-diam dan duduk di bangku paling belakang.
Bu Guru
Kura-Kura melihatnya.“Hmm? Kita punya murid baru, ya?” tanya Bu Guru.
Semua
murid menoleh ke arah Piko.
Piko
gugup.“Aku… aku Piko. Aku cuma ingin sekolah….”
Bu Guru
tersenyum, “Baiklah. Hari ini Piko boleh ikut belajar.”
Piko
sangat senang. Pelajaran dimulai. Namun lima menit kemudia Bu Guru berkata,
“Sekarang kita belajar duduk tenang selama satu jam.”
Piko
terkejut, “Satu jam?”
Lima
menit berikutnya Bu Guru berkata, “Sekarang menulis huruf seratus kali.”
Piko
mulai pegal. Sepuluh menit kemudian Bu Guru berkata lagi, “Tidak boleh terbang
di kelas.”
Piko
menatap jendela dengan sedih. Saat jam istirahat, semua murid terlihat lelah.
Tupi
berkata, “Besok ada tugas lagi.”
Bubu
mengeluh, “Aku belum selesai menggambar daun.”
Cici
menggaruk-garuk kepalanya,”PR matematikaku belum selesai juga.”
Piko
mulai berpikir. Ternyata sekolah tidak hanya bermain. Piko pulang dengan langkah pelan. Ibu sudah
menunggu.
“Nah,
bagaimana sekolahnya?” tanya Ibu.
Piko
diam sebentar lalu tersenyum. “Bu… ternyata sekolah itu seru, tapi capek juga.”
Ibu
tertawa. “Belajar memang menyenangkan, tapi ada waktunya.”
Piko
mengangguk. Lalu ia berkata dengan semangat, “Kalau begitu, sebelum cukup umur,
aku mau sekolah di rumah saja!”
Ibu
tersenyum bangga. Besok paginya, Piko membuat papan dari daun besar. Ia menata
buku gambar, pensil dan crayon warna warni di atas meja kecil. Hari ini ia akan
mengajar di sekolah miliknya itu. Dan, murid pertamanya adalah… Ibunya sendiri.
Piko
berdiri tegak dan berkata, “Selamat datang murid pertama! Hari ini pelajarannya
penting!”
Ibu
bertanya, “Pelajaran apa, Pak Guru Piko?”
Piko
menjawab sambil tersenyum, “Cara sabar menunggu sampai waktunya tiba!”
Mereka pun
tertawa bersama.
