Sosial Media
0
Artikel
    Home Tidak Ada Kategori

    Ketika Kegelisahan Remaja Barito Utara Abadi dalam "Monolog Plastik Kotaku"

    2 min read

     

    MUARA TEWEH – Sebuah langkah nyata dalam merawat literasi dan menyuarakan kepedulian lingkungan lahir dari tangan para generasi muda di Barito Utara. Sebuah buku antologi puisi bertajuk "Monolog Plastik Kotaku" resmi hadir sebagai ruang kontemplasi, merekam riuh gelisah dan harapan para pelajar SMA se-Kabupaten Barito Utara terhadap tanah kelahiran mereka.

    Buku ini bukan sekadar kumpulan rima, melainkan buah manis dari program Pelatihan Menulis Puisi yang diinisiasi oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Barito Utara. Melalui pelatihan tersebut, bakat-bakat terpendam dari bilik kelas berhasil diasah menjadi karya sastra yang tajam sekaligus menyentuh hati.



    Lahirnya karya-karya indah dalam antologi ini tidak lepas dari bimbingan dua narasumber yang telah lama mengabdikan diri dalam dunia literasi di Bumi Silaing Sulasih. Dr. Hj. Sunarty, S.Pd., M.Pd. dan Fitria Yunita, S.Pd.I., dua sosok yang aktif di Komunitas Penulis Barito Utara, bertindak sebagai mentor yang menemani proses kreatif para pelajar dari awal goresan pena hingga menjadi bait-bait yang utuh.

    Tidak hanya para pelajar, Ketua TP PKK Kabupaten Barito Utara, Hj. Maya Savitri Shalahuddin, juga turut ambil bagian dengan menuangkan karya puitisnya ke dalam antologi ini. Kehadiran karya beliau menjadi bukti nyata dukungan moral dan kedekatan emosional seorang pemimpin dengan dunia kreativitas remaja.

    "Riangnya dedaunan bersenandung, geliat angin menyapa nan ramah, tinggi menjulangnya pepohonan, tarian ranting bersahutan..." ( Maya Safitri) 

    Bupati Barito Utara, H. Shalahuddin, memberikan apresiasi tertinggi melalui sambutan Sekapur Sirih yang termuat dalam buku tersebut. Beliau menyatakan rasa bangganya yang mendalam atas inisiasi luar biasa dari TP PKK dan antusiasme para pelajar SMA.

    Menurutnya, gerakan literasi berbasis lingkungan seperti ini merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan karakter generasi muda di Barito Utara.

    Judul "Monolog Plastik Kotaku" seakan menjadi metafora kuat tentang bagaimana modernisasi dan isu lingkungan bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Lewat sudut pandang remaja yang jujur, antologi puisi ini diharapkan mampu menjadi pemantik kesadaran kolektif bagi pembacanya.

    Kini, suara-suara dari Barito Utara telah dibukukan. Menjadi pengingat bahwa di balik ketenangan sungainya, ada gelora literasi yang siap menginspirasi Nusantara.

    Komentar
    Additional JS